68

Tanah Surga, Katanya…


credit : 21cinelpex.com

Haaaaiiiii… Haaloooooo… Apakabar semua?? :)

Kali ini aku mo ngomongin tentang film Tanah Surga, Katanya.. Ya, sebenarnya seh filmnya sendiri udah lama. Tayang serentak di bioskop tanggal 15 Agustus kemaren, mungkin dipasin untuk memperingati hari kemerdekaan Indonesia. Nontonnya sendiri gak niat, tapi karena mo ngajak ibu dan tante-tante nonton bioskop, dan katanya film ini berlokasi di Pontianak (yang ternyata gak ada sama sekali syuting di Pontianaknya dong >.< ) maka pergilah aku membawa si ibu dan tante.

Nulis postingan ini ingin berbagi pandangan, penggambaran film dengan pandangan aku sebagai orang kalimantan. Ya, walaupun aku bukan tinggal didaerah perbatasan. Tapi toh aku deket juga dengan situasi seperti itu. Bapak aku sendiri pernah kerja di daerah perbatasan yang capek-capek beli TV yang dapet bukannya RCTI malah TV 3. Aku sendiri pernah merasakan susahnya pergi ke kampung-kampung asal ibu dan bapak yang harus menggunakan kapal air melewati hutan-hutan selama berjam-jam yang bukannya sampe, ditengah jalan kapal airnya malah mogok dan aku kecemplung ke sungainya :mrgreen:

Cerita filmnya sendiri? Rasanya temen-temen blogger udah sering deh yak membaca resensinya. Yaitu tentang kehidupan seorang anak bernama Salman yang hidup di perbatasan Indonesia – Serawak (ya, kami lebih sering nyebut serawak seh daripada Malaysia). Bagaimana dia dan warga disekitarnya sangat kesulitan untuk mendapatkan pendidikan, bagaimana tidak ada fasilitas kesehatannya sama sekali disana (dimana dokter aja cuma berbekal stetoskop dan obat-obatan sejenis enstrostop :P ), bagaimana uang ringgit lebih dikenal daripada rupiah, dan bagaimana ketidaktahuan penduduk dusunnya (yang digambarkan dari anak-anak sekolahnya) bagaimana bentuk dan warna bendera merah putih itu dan lagu kebangsaan Indonesia Raya yang setiap upacara selalu dinyanyikan oleh siswa-siswa di sekolah perkotaan.

Pandangan aku tentang film ini? LOGAT MELAYUNYA HANCUR!! :P Banyak kata-kata yang rasanya gak akan dipake oleh orang melayu digunakan di film itu. Tadi seh mau nyatet apa-apa aja :P Tapi keburu males dan sampe ngetik postingannya sekarang udah keburu lupa :lol: Tapi yang mau tahu bagaimana ‘anehnya’ logat bahasa Pontianak ya seperti film itu lah. Lumayan kan jadinya orang diluar kalimantan tahu juga *colek una* ;)

Soal isi filmnya sendiri ada beberapa catatan yang selama ini memang jadi kebiasaan di kalimantan barat disini. Di film diceritakan bahwa kebutuhan pokok mereka semuanya berasal dari Malaysia. Makanya ringgitlah yang berperan disana, bukannya Rupiah. Kenyataannya? Jangankan di perbatasan, di Pontianak aja seperti barang-barang yang dibeli dari Malaysia. Kami udah terbiasa dengan gula Malaysia yang harganya jauh lebih murah. Kalau kalian pergi ke kabupaten Sanggau aja misalnya daerah perbatasannya, orang-orang pada punya mobil, tapi ya mobil malaysia (yang bentuknya sangat khas banget menurut aku) bukan mobil Kijang atau Honda Jazz.

Soal kesehatan? Di film digambarkan bagaimana susahnya Hasyim, kakek Salman yang harus berobat ke kota karena harganya mahal. Mana pula dia gak mau berobat di Malaysia (sayang sekali *eh :roll: ) Pada kenyataannya? Kalau sakit lebih baik ke Kuching dulu, selain murah, berobat di Kuching kesembuhannya bisa lebih besar kesempatannya, dan disana sepertinya pengobatannya berbeda aja dengan di sini. Contohnya tetangga aku yang divonis harus melakukan operasi jantung. Ketika dia tidak mau dan berobat ke Kuching, dia sama sekali gak disaranin buat operasi, cuma makan obat dan penyakitnyapun berkurang! HEBAT! *menurut aku*

Soal pendidikan? Di film digambarkan bagaimana buruknya sekolah yang cuma terdiri dari satu guru dan 2 kelas tersebut. Kenyataannya? Aku punyatemen prajabatan kemaren 3 orang  yang penempatan mengajarnya di perbatasan. Nama daerah salah satunya adalah Sajingan Besar. Tidak ada listrik, tidak ada sinyal telepon. Lucu kalau udah melihat pola tingkah mereka datang ke kota. Semua-muanya mau dibeli. Ya emang seperti itu guru di daerah terpencil, punya uang tapi gak bisa memanfaatkannya.

Tapi dari yang aku denger adalah sekolah disana sudah lumayan banget. Dari segi pembangunannya dimana banyak sekolah sekolah yang dibangun baru atapun ditambah kapasitasnya. Dari yang tadinya hanya ada sekolah dasarnya, sekarang sudah dibangun SMP-SMP satu atap sehingga pendidikan 9 tahun yang dicanangkan oleh pemerintah bisa dilaksanakan. Ya berproses lah.

Kalau di Pontianak? Mau ngelanjutin kuliah dimana? Jawaban ke Kuching udah lumayan familiar deh ditelinga. Aku juga gak tahu kenapa kuliah di kuching bisa jadi pilihan. Padahal menurut aku seh masih bagusan ITB, UI atau UGM, jauh malah bagusnya.

Lalu ada satu adegan di film yang menggambarkan bagaimana perbedaan antara serawak dan kalimantan dari segi pembangunan (jalannya) yang berbeda jauh banget. Memang seperti itu seh serawak, karena aku pernah ikut perjalanan pemuda kalimantan barat gitu sepanjang jalan indonesianya melewati batu-batu dan jalan yang gak rata, pas masuk Malaysia langsung disambut dengan aspal yang mulus. Sebenarnya jalan-jalan udah banyak yang dibangun seh, ya mudah-mudahan aja pembangunnya bisa terus dan menyeluruh dipelosok desa.

Tapi menurut aku emang asyikan di sini seh. berpergian dari desa ke desa dengan menggunakan motor air itu sangat asyik menurut  aku. Ya walaupun pembangunan jalan darat tetep harus menjadi prioritas karena perbedaan waktu dari jalan air dan jalan darat sangat kentara. Contohnya aja kalau lewat air ke desan Telok Pak kedai di Kabupaten Kubu Raya dari Pontianak bisa 3-4 jam. Nah, kalau lewat jalan darat (sekarang udah ada, tapi belum bisa masuk mobil) cuma 1 jam aja gitu.

So, ada yang mau ke kalimantan? Lokasi syuting filmnya di Sungai Ambawang berbatasan langsung dengan Pontianak loh ;)

2

Kan bukan hari jum’at?


id.indonesian-craft.com

5 Oktober 2010, rasanya sudah sangat telat untuk mengomentari hari batik Nasional yang kemaren pada tanggal 2 Oktober diperingati di negara kita yang tercinta ini.

Tapi dengan tekat dan pemikiran bahwa nasionalis itu bukan hanya untuk satu hari saja :P Maka akupun tetap ingin menuliskan sesuatu tentang batik.

Jiwa nasionalis aku memang tidak tinggi, apalagi kalau dibandingkan dengan para olahragawan bahkan pahlawan. Bisa kebanting sampe Inggris trus mentok di Old Trafford aku (maunya (lol) ). Namun tetap saja aku tergelitik untuk sedikit menuliskan pandangan aku tentang hal ini.

Jadi, aku lagi-lagi tahu bahwa hari itu adalah hari batik dari twitter. Beneran deh aku kalau hari-hari yang kurang penting seperti ini gak akan masuk ke dalam otakku yang berukuran kecil. Niat mau merayakannya juga dengan menggunakan batik saat pergi keluar rumah, tapi apa daya aku cuma punya 1 helai baju batik. Dan itupun modelnya sangat ‘kantoran’ banget, berkerah gitu. Manalah bisa baju seperti itu dibuat untuk jalan pada malam minggu!

Nah, balik lagi ke masalah hari batik. Menurut tweet yang aku baca di TL, hari batik tahun ini tidaklah se’heboh’ hari batik tahun lalu. Ini mungkin karena bangsa Indonesia memang senang dengan segala hal yang musiman. Kenapa gak sekalian aja gak ngerayainnya kayak aku.

Memang batik sekarang telah menjadi satu keharusan dalam hal berbusana. Tidak lagi terpaut untuk acara-acara tertentu saja. Bahkan banyak kantor yang mewajibkan setiap pegawainya mengenakan batik setiap hari jum’at.

Kemudian, pernyataan yang jadi sering muncul karena itu adalah, ketika seorang menggenakan batik pada hari lainnya: ‘Lho kok pake’ batik? kan ini bukan hari jum’at?‘ Nah lho! Siapa yang bingung sekarang.

Presepsi orang Indonesia mengenakan batik adalah hanya karena kewajiban atau ikuta2an orang yang memang sudah ramai menggunakannya. Tidak banyak masyarakat Indonesia yang meneliti lebih jauh tentang batik2 tersebut. Tidak banyak orang2 yang mempelajari batik, cara membuatnya, apa-apa saja jenis2 batik itu, sejarah terbentuknya batik, dan hal-hal dasar yang membuat kita cinta terhadap warisan budaya Indonesia.

Tentu ini harus dikemas dengan tampilan yang menyenangkan. Karena bagi aku (yang notabene adalah orang eksak) mendengarkan cerita monoton yang panjang pasti akan sangat membosankan.

Menurut mbak okke ‘sepatu merah’, hal yang paling pas untuk menumbuhkan kecintaan terhadap batik itu adalah dengan memberikan pelajaran muatan mulok dibangku SD. Tapi menurut aku sih gak perlu juga dikhususkan seperti itu. Karena budaya Indonesia sangat luas. kalau kita terus2an fokus dengan baik, lalu apa kabar budaya kita yang lain?

Bagusnya sih kalau setiap hari jumat itu bukan batik. Tapi disesuaikan dengan daerahnya masing2. Seperti kalau di daerahku Kalimantan Barat ini, seragam hari jum’at yang pas itu corak ingsang. Begitukan lebih bermanfaat. lagian kenapa sih sesuatu yang didaerah pulu kecil padat penduduk itu yang selalu menjadi fokos perhatian pemerintah. Masih banyak kok budaya di luar pulau itu yang bisa kita gali dan diperdalam lagi. Begitu pula dengan kainnya.

Maka, marilah kita bersama-sama menjaga budaya kita masing2. Pertama-tama budaya asal daerah kita sendiri dulu lah, jangan yang laen :D

nb: gambar diatas adalah batik khas kalimantan barat