#2: Sebuah Rahasia

Oleh : Niee

Lampu-lampu itu telah menyala. Ratusan penonton telah duduk di bangkunya masing-masing sambil sesekali mengobrol ringan dengan teman yang ada disampingnya. Aku sendiri sudah siap dibelakang state. Sudah dari beberapa jam yang lalu aku menyiapkan diri untuk acara ini, bahkan kalau diurut lagi perjalanan aku sangat panjang hingga bisa berada di sini. Karena itu aku ingin semua ini berjalan dengan sempurna.

Hari ini aku mengenakan gaun pesta berwarna hitam. Rambutku yang pendek telah disasak sedemikian rupa hingga terlihat lebih indah. Aku juga mengenakan highheels 12 centimeter hingga badanku yang telah tinggi ini melonjak semakin tinggi saja.

Dari kejauhan aku melihat kedua orangtuaku, ayah dan ibuku yang duduk di kursi VIP. Ibuku tampak menahan haru dan sesekali meneteskan air mata, ayahku terlihat lebih cuek namun tidak bisa menutupi perasaannya yang kacau, namun tetap tampak ingin mensupportku dari dekat malam ini. Aku tahu bagaimana sulitnya mereka berdua menerima keputusanku ini tapi akhirnya mendukungku hingga hari ini.

Di sudut jauh ruangan aku melihat Reza, laki-laki yang selama ini sangat aku kagumi. Kedatangannya malam ini membuat kepercayaan diriku makin tingi dan tinggi. Walaupun dia telah menolakku secara halus tapi tidak membuatku kecewa karenanya. Keterbukaannya untuk tetap mau berteman denganku lebih dari apapun yang aku harapkan darinya.

Ini adalah malamku, ini adalah hariku, ini adalah momen kebangkitanku menjadi diriku sendiri.

“Siap-siap Din, bentar lagi giliran kita keluar,” ucap temanku mengingatkan.

“Sekarang!”

Aku berjalan keluar, sinar lampu sorot dan beberapa blitz kamera langsung saja menghujaniku tiada hentinya. Ratusan pasang mata tak lepas-lepas memperhatikanku dari ujung rambut hingga ujung kakiku. Mimpiku telah menjadi kenyataan. Namun perjalanan hidupku tidak sampai di sini, karena ini adalah awal. Perjalanan hidupku masih panjang, dan mungkin lebih berat dari yang aku jalani selama ini. Tapi paling tidak, aku telah menjadi diriku sendiri. Sampai saat ini, itu sudah lebih dari cukup.

 

***

 

Gerombolan remaja cewek itu memasuki salah satu toko pernak-pernik di sebuah mall di pusat kota Pontianak dan mulai memilih-milih barang-barang yang disediakan di sana. Perempuan yang lebih tinggi sedang memilih beberapa gelang dan kalung di salah satu sudut toko, sedangkan sisanya lebih memilih untuk melihat-lihat peralatan kosmetik keluaran terbaru tahun ini sambil sesekali tertawa entah apa yang sedang diperbincangkannya.

Aku selalu iri dengan pemandangan seperti ini, pemandangan yang melihatkan segerombol cewek yang bersenang-senang dengan temannya untuk membeli sesuatu atau hanya sedekar ngobrol menggosipkan orang-orang di kafe sambil minum kopi dan browsing internet.

“Hey Dian! Lo ngapain termenung sendiri,” ucap Reza mengagetkanku.

Aku menoleh sedikit kearah Reza dan tersenyum. Walaupun aku tidak mempunyai teman-teman cewek untuk diajak belanja atau sedekar mengobrol, tapi aku mempunyai Reza, cowok yang selama ini aku sukai, tapi tak pernah berani untuk aku mengakuinya, karena satu alasan. Satu alasan yang menggangguku selama ini, yang membuatku seperti bukan menjadi diriku sendiri.

“Gue lagi mandangin cewek-cewek itu,” ucapku jujur.

“Hahahaha, lo emang gak pernah berubah Yan, selalu aja suka meratiin gerombolan cewek.”

Saat-saat inilah yang paling indah dalam hidupku. Berjalan berdua dengan Reza dan memandangnya tertawa lepas. Reza Saputra, cowok dingin yang selalu menghindari cewek-cewek cantik yang banyak mengejarnya, cowok pintar tapi tidak pernah menggunakan kepintarannya, dan cowok yang cuek dengan penampilannya dan membiarkan rambutnya memanjang tak tertata tapi tak menutupi wajah aslinya yang luar biasa tampan. Dan aku, masuk kedalam sedikit orang yang bisa dekat dengan dia, aku sedikit beruntung.

 

***

 

“Lo belum jujur ke Reza bahwa lo suka sama dia?” Tanya Ditto ketika aku berjalan berdua dengannya.

Ditto adalah satu-satunya orang yang tahu segalanya tentangku. Tentang rahasia terdalamku yang sangat kelam, yang membuat aku malu kepada diriku sendiri, yang mebuat aku benci kepada diriku sendiri. Tapi jauh dari itu, aku tetap tidak bisa menghilangkannya, aku ingin menjadi diriku ini apa adanya.

“Lo fikir itu semudah nembak anak SMP,” ucapku dingin.

Walaupun aku sudah jujur kepada Ditto, tapi masalah ini bukanlah sesuatu yang suka untuk aku bahas. Ini terlalu sensitif untukku.

“Gue cuma mikir aja, selama ini dia selalu mau jalan berdua sama lo. Dia yang dingin dengan cewek-cewek tapi baik banget sama lo. Apa lo gak penasaran kalau-kalau dia juga suka sama lo Yan?”

Aku tak menjawab. Jauh di dalam lubuk hatiku juga pernah berfikir seperti yang diucapkan Ditto tadi, bahkan aku pernah sangat berharap bahwa Reza juga menyukaiku, juga memendam suatu perasaan untukku seperti aku yang menyukainya. Tapi..

“Gak mungkin! Gue merasa Reza itu cuma nganggap gue sebagai temannya, gak lebih. Dan gue gak mau merusak ini hanya karena perasaan gue sama dia,” ucapku, lebih kepada diriku sendiri.

“Ya udah, kalau gitu, cepatan tuh pilih kosmetiknya, gue udah gak betah lama-lama ditoko beginian.”

Setengah jam kemudian aku sudah membeli seperangkat makeup lengkap, mulai dari bedak, alas bedak, lipstick, blush on, eyes shadow, eyes liner, mascara dan parfum Victoria kesukaanku. Memasukkan semuanya kedalam tas ransel dan menutupnya rapat-rapat, kemudian berjalan mengikuti Ditto yang sedari tadi sudah menunggu diluar.

“Yuk, kita pulang.”

“Sesuai perintah putri,” ucapnya dengan suara yang khas Ditto yang sangat aku sukai.

 

***

 

Pagi itu secerah pagi-pagi sebelumnya. Matahari bagaikan sedang berlomba dengan manusia untuk bangun pagi dan memancarkan cahayanya. Pukul setengah 6 pagi langit sudah terang benderang bagai ingin menyindir manusia yang masih betah di balik selimutnya.

Aku seperti biasa melakukan rutinitas pagiku, mengecek twitter dengan cepat kemudian mandi dengan busa melimpah sabun kesukaanku. Kupastikan tak satu millimeter bagianpun di tubuhku yang terlewatkan untuk kubersihkan. Rambut, kuku dan wajahku juga tidak luput dari perhatianku. Yang aku mau adalah kesempurnaan. Kesempurnaan yang seketika hilang ketika pagi itu ayahku masuk kedalam kamarku.

“Apa-apaan ini Dian?”

Ayah memegang peralatan makeupku, disampingnya tergeletak tas ranselku yang isinya sudah acak-acakan. Bibirnya bergetar, bagai ingin bicara banyak namun berusaha ditahannya. Hanya tatapan matanya yang lurus mengarah kedalam mataku yang membuat lututku lemas hingga terjatuh kelantai kamar.

Beberapa menit kemudian aku melihat ibu memasuki kamarku, memandangi aku, ayah dan ranselku bergantian sambil menutup mulutnya. Matanya yang indah seketika memerah dan air menggenang di dalamnya.

“D-dian, k-kamu?” Tanya ibuku terbata-bata dan tak bisa menyelesaikan kalimatnya.

Aku tak bisa melihat semua ini, aku tidak tahan. Dua orang yang ada dihadapanku adalah orang yang paling aku sayangi. Dua orang yang paling aku jaga perasaannya, dan dua orang yang karena mereka aku menahan diri sampai sekarang untuk tidak membongkar sisi burukku yang paling kelam.

 

***

 

Langit kampus bulan Januari secerah biasanya, namun kecerahan itu bagai menertawakan aku tentang betapa bodohnya aku selama ini. Menutupi diri karena malu dengan diri sendiri. Tidak melakukan sesuatu karena ketakutan atas kegagalan. Bahkan orang yang gagal rasanya lebih baik dibanding orang yang tidak mau mencoba seperti aku.

“Sekarang waktu yang tepat buat jujur sama Reza tentang perasaan lo. Sebelum dia tahu dari orang lain,” ucap Ditto yang sedari tadi menemaniku.

Dia benar, tidak ada waktu yang lebih baik lagi dari sekarang. Jika aku menunda-nundanya lagi malah akan menjadi kebusukan dalam hubunganku ke Reza. Tapi, tentu ini bukan sekedar mengungkapkan perasaan seperti layaknya anak SMA yang sedang jatuh cinta. Ini lebih mengungkapkan perasaan dan jati diri.

“Gue tahu ini pasti sulit buat lo, memulai sesuatu yang baru untuk menggantikan sesuatu yang lama dan sudah menjadi kebiasaan itu memang sulit. Tapi efeknya akan terasa baik jika lo berani buat ngelakuinnya,” ucap Ditto yang dapat membaca ekspresi ketakutan dan kegelisahan dari mimic wajahku.

“Gue ragu.”

“Itu pasti, tapi lo harus ngelakuinnya. Itu Reza, REZA!”

Reza tepat berjalan melintas di depan tempatku duduk bersama Ditto. Tampilannya masih seperti biasa, dengan rambut acak-acakan dan setelan kaos dan celana jins yang sedikit sobek dibagian lutut. Tampak dia berusaha menjahit sendiri sobekan tersebut yang membuat bukannya bertambah rapi tapi malah terlihat aneh.

Melihat Ditto dan aku senyumnya mengembang seperti biasa, manis dan membuat hatiku berdetak kencang tak karuan. Senyumnya yang membutakan hatiku, yang bisa membuat aku melakukan segala sesuatu asal dapat melihat senyum itu berkembang untukku, dan hanya untukku.

“Lo gila manggil dia kesini!” ucapku kesal pada Ditto.

Ditto hanya tersenyum dan kemudian berdiri berjalan kearah Reza. Sebelum pergi dia membisikkan sesuatu yang membuat Reza terkejut dan berbalik menatapku dengan pandangan curiga.

Ditto bangsat! Ucapku dalam hati.

“Lo jangan percaya sama Ditto, dia itu pembohong!” ucapku ketika Reza sudah dalam radius untuk mendengar ucapanku.

“Memangnya Ditto bilang apa?” tanya Reza sambil memandangku dengan penuh makna. Aku sendiri tidak bisa menebak apa maksud dari pandangan itu.

“Memangnya Ditto bilang apa?” aku balik bertanya.

Reza tersenyum. Dia tidak langsung menjawab. Matanya menjelajahi setiap sudut bagian wajahku yang membuat aku salah tingkah. Apa yang dia cari dalam wajahku?

“Ditto bilang, lo mau ngomong sesuatu yang penting ke gue,” ucap Reza kemudian.

Aku tertegun. Mulutku terasa terunci. Kepalaku berasa di bebani berton-ton besi yang membuat pandanganku sedikit kabur dan terasa pusing. Ditto memang brengsek, ngapain juga dia bilang seperti itu ke Reza.

“G-gue, s-sebenarnya gue.”

Reza menunggu. Seperti biasa ketika aku tidak bisa mengungkapkan fikiranku dengan kalimat yang tepat, dia selalu menunggu. Menungguku siap dengan apa yang ingin aku ucapkan, tanpa pernah ada paksaan agar aku cepat melakukannya. Reza yang seperti biasa selalu baik terhadapku, dan aku tahu aku tidak bisa membohonginya terus menerus seperti ini.

“Kalau lo belum siap buat ngomong jangan dipaksain,” ucap Reza sambil menepuk pundakku. “Gue ada kelas sebentar lagi. Gue cabut dulu ya.”

“Reza tunggu!”

Tubuh itu berbalik, mata itu menatap tepat kedalam mataku, bibir itu terkatup rapat yang menandakan dia sedang menunggu, sedang menunggu lawan bicaranya untuk bersuara, dan aku tidak boleh membuat dia menunggu terlalu lama.

“G-gue. Gue suka sama lo.”

Aku menelan ludah yang rasanya sudah banyak tertampung di dalam rongga mulut ini. Akhirnya, akhirnya aku mengatakannya. Rahasia yang selama ini aku pendam lama akhirnya tersampaikan.

Kepalaku tertunduk, bukan, bukan karena lemas. Tapi jauh karena aku tidak sanggup untuk melihat wajah Reza yang entah sekarang bagaimana dia memandang aku. Apakah dia menjadi benci kepadaku?

Namun tak apalah, yang penting aku tidak lagi membohonginya terus menerus. Walaupun konsekuensinya adalah aku tidak bisa lagi dekat atau bahkan melihatnya.

 

***

 

Malam itu guntur petir menyambar diseluruh penjuru kota Pontianak. Jalanan tampak sepi, hanya sebuah mobil kijang tua melaju dengan kecepatan tinggi bagai ingin mengejar kecepatan kilat.

Di depan sebuah klinik bersalin mobil itupun berenti. Tergopoh-gopoh seorang lelaki paroh baya membuka pintu belakang mobilnya dan membantu istrinya yang tengah hamil tua keluar dari mobil.

Melihat suami-istri tersebut seorang suster langsung membantu sang suami membopong istrinya untuk masuk kedalam kamar bersalin. Tak lama kemudian sang dokterpun masuk kedalam ruangan. Rambutnya yang putih dan wajahnya yang penuh dengan keriput menandakan bahwa dia sudah berpengalaman menghadapi kondisi seperti ini.

“Bapak silahkan tunggu diluar,” ucapnya dengan tenang kepada sang suami.

Dengan langkah gontai sang suami itupun keluar dari ruangan. Bermenit-menit berlalu tanpa matanya yang lepas dari pintu kamar bersalin. Perasaannya bercampur aduk antara cemas dan penasaran.

Tak lama kemudian suara tangisan bayipun terdengar dari balik dinding ruangan. Seorang suster keluar dari balik pintu dengan wajah tersenyum puas. Sebuah senyuman yang mengartikan banyak hal, yang membuat lega bagi sang suami.

“Selamat Pak, anak anda laki-laki,” ucap sang suster.

“Dian, nama anakku adalah Dian Perdana.”

3 thoughts on “#2: Sebuah Rahasia”

  1. ape?? jadi dian nih cowok???
    cerpen kau nih penoh kejutan.. sumpahlah… ketawak2 aku jadinye

    • Yeah, mia kenak jebakan aku lagi, hahahaha…
      kan seru mih selalu ade kejutan disetiap ujung ceritanye,
      jadi ndag basi :P

  2. gile yak heran aku
    kenak teros…
    muke gileee…
    mane lah aku bayangkan die ternyata lelaki…

Balas Komentar

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 492 other followers