Tags

, , ,


Haiiii Halooo.. Apa kabar semuanya neh? Lagi ngapain? Aku sendiri masih ngebusuk di rumah sendirian.

Sebenarnya pingin banget ikutan kontes-kontes yang sekarang berseliuran yang diadain oleh tementemen blogger. Tapi kok temanya rada susah yak? (padahal aku aja gitu yang males mikir :P ) Jadi sekarang mau nyeritain tentang pertemuan aku dengan orang yang aku gak kenal. Kalau kemaren aku cerita tentang seorang bapak yang baik hati mengantarkan aku untuk cari kosan temen di Bandung tengah malam. Kali ini yang terpilih adalah PAK JAILANI!! Prokprokprok!! *goyanggoyangpompom*

Pak Jailani *yg gak jelas kelihatan* >.<

Di atas adalah satu-satunya foto Pak Jai yang ada sama aku. Sayang banget yak gak sempat foto sama-sama bapak.

Pertemuan dengan Pak Jailani ini adalah saat aku jalan-jalan ke Kuching bulan Juni kemaren. Seperti yang udah aku ceritain, kalau perjalanan ini sama sekali gak ada rencana. Hanya karena mendengar ada cuti bersama mendadak, jadinya aku langsung beli tiket tanpa ada persiapan apapun!

Dateng ke Kuching dengan modal nekat cuma punya beberapa nama hotel murah buat nginep aku, kakak dan kak Tri rada kagok juga pas turun dari bis *nah loh mau ngapain gua?* Karena aku yang ngerencanain acara jalan-jalan kali ini, jadinya aku rada merasa bertanggungjawan seh (ya walaupun sebenernya aku yang paling kecil disini seharusnya yang dilayani :P ) akhirnya aku dengan sigap cari taxi terdekat.

Dapet supir taxinya orang cina gitu, diajakin ngomong malay gak terlalu bisa, di ajakin ngomong inggris patah-patah *bingung* tapi karena melihat sekitar sepertinya supit taxinya sama semua (gak ada orang melayunya) jadi terpaksa deh pake taxi yang itu aja.

Sampai-sampai di hotel dibantu cek in sama si supir taxi (baik juga ternyata :mrgreen: ) daaannn resepsionisnya sama aja kayak si supir taxi! Kurang bisa bahasa Malay (tapi lebih mendingan seh daripada si supir taxi) dan bahasa inggrisnya juga kacau! *jongkok dikolong meja*

Bercermin dengan dua orang di atas, kok jadinya jadi takut jalan-jalan sendiri. Takut gak bisa komunikasinya gitu. Lagian kuchingkan (apalagi wilayah wisatanya) emang wilayah cina. Sebenarnya seh sama juga dengan Pontianak rame komunitas Cina, tapi kalau di Pontianak (dan Indonesia pada umumnya) gak ada tuh namanya orang Cina gak bisa bahasa Indonesia kan! Beruntunglah kita di Indonesia yang punya bahasa persatuan :D

Jalan-jalan hari pertama di sekitaran waterfront aja. Keliling-keliling dari siang sampe sore, akhirnya sore memutuskan untuk menyusuri sungai serawak dengan menggunakan kapal. Di sinilah kami bertemu dengan Pak Jailani.

Pak Jailani ini bekerja sebagai awak di kapal ini. Dia bertugas untuk menjelaskan kepada penumpang apa-apa yang ada disepanjang pinggiran sungai Serawak. Karena cuma kami bertiga yang merupakan turis asing, jadinya dia hanya fokus sama kami. Yang lebih menguntungkan lagi adalah, Pak Jailani ini asli orang melayu yang membuat gak ada masalah komunikasi antara kami berempat. *bangsai*

Pak Jailani cerita kalau orang-orang di serawak ini rata-rata merupakan keturunan orang-orang di Kalimantan (Indonesia). Kakek dia sendiri juga merupakan orang Indonesia yang menetap di Malaysia, makanya dia rada respek dengan kami. Beberapa bahasa Indonesia juga dia menguasai seperti dia menyebut mobil (yang sebenernya dia terbiasa dengan kerete) dan gak masalah di panggil dengan panggilan PAK (sebenarnya aku gak tahu juga ada masalah apa dengan panggilan ini, tapi setiap temen2 pak Jai denger kami manggil PAK pasti mereka senyum-senyum dan bilang: iya dia cocok memang dipanggil PAK! *what the maksud?* ).

Akupun bertanya-tanya daerah wisata di seputaran Kuching dan dengan baik hatinya (mungkin karena kasian juga sama kami :P ) Pak Jai lalu menawarkan keliling Kuching dengan mobilnya. Untuk memperlancar proses, kamipun meminta nomor kontaknya.

Esok harinya masalah muncul. Kartu kami bertiga masih menggunakan nomor Indonesia dan gak ngudeng kalau mau nelpon internasional harus didaftarkan dulu! Akhirnya kamipun berinisiatif buat nelfon dari hotel. Dihubungi berkali-kali kok gak bisa yak? Mulailah kami berfikir ‘wah dibohongi neh kita’.

Janjian jam 9, sampai jam 10an belum berhasil menghubungi Pak Jai lagi. Karena laper, kamipun cari sarapan dulu baru berusaha menghubingi bapaknya lagi. Bingung juga mau ngubungi pake apa. Kalau mau ke hotel lagi jauh. Nyobain telepon umum eh ternyata bisa! Seneng banget! (jadi telepon umum itu penting banget loh untuk para wisatawan, sayang banget di Indonesia keberadaan telepon umum udah jarang banget yang kondisinya baik).

Setelah beberapa kali dihubungi, akhirnya kami berhasil juga ketemu sama Pak Jai dan jalan-jalan seharian keliling Kuching dengan mobil yang nyaman dan guide dadakan yang berpengalaman :D Serunya guide seperti pak Jai ini adalah, kami gak melulu diajak ketempat wisata aja. Tapi adakalanya dia permisi untuk mengambil sesuatu di rumah temannya sehingga kami melihat rumah-rumah penduduk yang ternyata bentuknya seperti Pontianak juga tahun 90an!

Yak, begitulah cerita aku bertemu dengan orang asing diperjalanan. Seperti kata temenku Sita: Jangan takut untuk jalan-jalan, karena selalu ada orang baik disekitar kita :)

About these ads