Bahasa Daerah..

Haaaiiiii Haloooo.. Apakabar semuanya? Masih baik kan? :mrgreen:

Tadi, di ruangan kantor kedatangan pegawai dari ruangan lain. Ya, dia emang udah gak asing lagi seh di ruangan. Namanya juga ruangan aku emang selalu berasa menyenangkan untuk orang-orang berkunjung *halah :P Anggaplah namanya Masko. Masko ini asli Sunda yang bisa berbahasa jawa. Di ruangan aku sendiri, ada satu orang sunda asli, satu orang jawa medok. Jadilah mereka berbicara dengan bahasa mereka tanpa aku mengerti satu katapun yang terucap dari bibir gak manis mereka.

Biasanya, kalau mereka serius dengan perbincangan mereka sendiri seh aku gak terlalu ambil pusing dengan bahasa yang mereka gunakan. Permasalahannya adalah, kalau mereka mulai entah melakukan gerak tubuh apa yang membuat aku berfikir, neh orang ngomongin aku gak yak? Kan jadinya gak enak sendiri!

petani-kata.blogspot.com

Aku yang aslinya orang bugis banjar (tapi janganlah kalian bertanya bahasa bugis ataupun banjar, karena aku gak tahu! >.< ) lahir dan besar di Pontianak hanya mengetahui satu bahasa, bahasa Indonesia! (yak, kalau gak dihitung dengan bahasa inggris aku yang hancur lebur berantakan yak :P ) Terdengar sumpah pemuda banget yak 8)

Tapi beneran loh, walaupun bahasa daerah di Pontianak itu adalah bahasa melayu, tapi aku hanya sedikit tahu bahasa melayu tersebut. Ya, kalau bahasa sehari-hari ngerti lah, kalau udah terlalu medok melayunya ya aku keblenger juga >.< Lagian kerugian bahasa melayu menurut aku adalah semua orang mengerti!

Contoh mudahnya saat aku melakukan perjalanan dinas yang mana pesertanya adalah dari seluruh kabupaten kota di Indonesia. Mulailah pada saat menentukan teman sekamar. Biasanya aku sengaja gak milih-milih temen sekamar yang udah kenal, biar ada temen akrab lainnya gitu :mrgreen: Permasalahannya adalah saat melakukan telpon dengan orang rumah. Mereka yang dari daerah lain (aku pernah sekamar dengan orang banjar, jawa timur, jawa tengah dan bergaul dengan orang palangka serta NTB) dengan damainya bertelpon ria tanpa takut/merasa risih aku ketahui. Sedangkan aku? jadi malu-malu mau nelpon mah, soalnya pasti mereka tahu apa yang aku bicarakan! :(

Pernah juga aku sekamar bertiga, yang dua temen sekamar aku berasal dari Jawa Timur. Asli lah, mereka kalau bicara berdua ya pake bahasa jawa yang sama sekali aku gak mengerti. Jadi merasa terkucilkan gitu >.<

Semenjak kejadian-kejadian itu barulah aku sadar emang bahasa pemersatu di negeri ini berperan penting dikehidupan sehari-hari. Dan bahasa indonesia digunakan juga untuk menghormati orang yang ada di dekatmu. Walaupun kalian gak ngomongin orang itu, tapi kalau pake bahasa yang gak dimengerti juga agak risih kan yak?

Sooo,, mari budayakan bahasa Indonesia :mrgreen:

nb: temen aku ada bilang kalau ada dua orang yang saling bicara menggunakan bahasa melayu kadang mereka gak ngerti juga apa yang dibicarakan. Kalau temen-temen blogger ngerti gak seh sebenarnya bahasa melayu itu? Tapi, bahasa yang bukan hanya mengganti ‘a’ jadi ‘e’ loh :P

, , ,

27 Comments

Ada Bos Gak??

Haaaiiii Halooo.. Apakabar semua?? Baik baik aja kan? Masih semangat kerja kan yak? :)

Beberapa hari terakhir ini di kantor aku rada lengang. Soalnya dari bos besar sampe bos kecil pada ke Jakarta untuk menghadiri suatu pertemuan. Peristiwa yang amat sangat jarang terjadi ini pasti dimanfaatkan dong bagi para staf-stafnya :P

Memanfaatkan situasi ini kalau dari segi aku adalah bisa fokus sama satu atau beberapa kerjaan pokok yang terbengkalai. Kalau ada si bos, biasanya selalu aja ada tugas mendadak diluar tupoksi kerjaan aku dan yang lainnya. Tugas mendadak itu biasanya berkaitan dengan deadline. Ujung-ujungnya berkejar-kejaranlah membuat tugas tersebut yang harus diselesaikan tanggal sekian. Selesai tugas yang satu, datang deadline yang lain yang ujung-ujungnya malah tugas pokoknya (yang biasanya jarang pake deadline) jadi dinomor sepuluhkan deh.

Nah, tugas pokok itu gak selamanya juga akan akan dikerjakan dalam waktu dekat kan yak? Kalau udah terlihat tanggal yang makin membesar dan SPJan yang harus diselesaikan ujung-ujungnya ya ‘berlari-larian’ lagi.

Saat si bos gak ada seperti inilah aku memanfaatkan benar waktu yang ada. Mumpung gak ada tugas tambahan. Mumpung semua tugas tambahan dipending (yang nantinya bakalan memuncak juga pas bos pulang :P ) aku bisa fokus bener ngerjain tugas pokok.

Ayoo,, tebak yang mana bos kecil aku? :D

Daaann,, menurut aku. Ngerjain tugas dengan fokus tanpa dimintai ini dan itu ternyata menyenangkan loh. Misalnya aja aku tadi ada ngerjain satu proposal. Biasanya, kalau dalam waktu ‘normal’ aku bisa membuat hanya satu proposal sampe seminggu! Dan sekarang? Dua hari udah selesai aja dong :mrgreen:

Dalam dua hari itu ternyata aku gak cuma mengerjakan satu proposal aja. Tapi mengerjakan 2 pekerjaan sekaligus dan hasilnya menurut aku seh lumayan (dari segi jumlahnya). Jadi aku berfikir loh, betapa menyenangkannya orang yang bekerja sendiri dan memanage waktunya sendiri tanpa harus diperintah oleh atasan. Pasti asyik kan yak!

Tapi, gak selalu gak ada bos itu enak loh ternyata. Misalnya aja ada tugas yang datang dari lintas sektor. Kebanyakan tugas seperti itu memerlukan keputusan dari si bos. Bisa seh kita ngerjainnya sendiri, tapi kalau ada salah atau gimana, ntar yang kena kita sebagai stafnya kan yak?

So, menurut aku seh ada gak ada bos tetep ada enak dan gak nya. Ya kalau emang mau bebas berarti harus punya usaha sendiri kan yak. Gak jadi pegawai atau PNS kayak aku :P

Kalau temen-temen blogger. Suka atau gak kalau gak ada si bos?

, , ,

58 Comments

Solitaire dan Sendiri

Haaaiiiii… Haloooo… Apakabar semuaaa…

Ahak, akhirnya aku ikutan give away ini setelah merenung lamaaaaaa banget :P *lebay* soalnya pada dasarnya tema GA ini lumayan sulit buat aku. Biasanya, kalau ada GA yang perlu konsentrasi tinggi aku gak ikutan (ketahuan malasnya -_-” ). Tapi karena keinginan bercuap-cuap lebih besar daripada rasa malas akhirnya tercipta jualah postingan ini :mrgreen:

bakno.com

Kalau denger kata Solitaire, pasti aku langsung teringat dengan games standar di komputer. Ya, soalnya kalau masalah permainan kartu nyata, aku sama sekali gak pernah main permainan ini. Yang aku tahum permainan kartu itu ya 41, hantu, cangkul dan lain sebagainya (sama gak dengan temen-temen blogger? ) Remi seh sering yak denger, tapi aku gak bisa dong maennya *dan gak pernah juga* (iyaaaa… jangan katain aku kuper walaupun emang bener -_-” )

Yang lain pada ngebahas james bond 007, aku sama sekali gak tahu. Ya, tahun berapa noh tuh film? Aku baru ngeh film JB itu jaman-jamannya Daniel Craig yang maen :P Jadi solitaire hanya sekedar games komputer di memori otak aku. Dan soal memainkannya aku juga gak begitu sering, seringnya seh kalau lagi bosan di kantor mainnya Spider Solitaire (bedaaaaa kaaaannn yaaakkk?? :D )

Nah, bagaimana dengan mandiri? Hmmmmm…

Jujur, aku gak bisa mendefinisikan kata mandiri dengan gamblang kepada seseorang. Menurut aku, kalau dia bisa hidup sendiri udah dikatakan mandiri. Tapi kalau hidup sendiri tapi masih menelpon orang terdekat tengah malam, atau makan masih mencari di warung terdekat dan selalu minta bantu kalau ada masalah ya itu masih masuk mandiri gak yak?

Kalau aku aja gak bisa mendefinisikan seseorang dikatakan mandiri atau gak, apalagi aku memandang pribadi aku sendiri itu mandiri atau gak ya mana bisa..

Soal ditinggal sendirian di rumah, aku udah sering banget. Ya, paling lama waktu ibu dan bapak pergi haji tahun 2009 lalu. Waktu itu aku hanya tinggal berdua dengan kakak. Mau apapun ya gak bisa minta tolong ibu dong. Jadilah mengerjakan segala sesuatu sendiri mulai dari beresin rumah, mencuci, sampe memasak!

Iya,, walaupun aku masih menggolongkan diri gak bisa masak. Tapi kalau cuma tumis-tumis sayuran dan goreng-goreng sejenis tempe, tahu, ayam, udang ya aku masih bisa dong 8) Apalagi aku ini bosenan kalau harus makan diluar terus. Selain makanannya yang dirasa itu-itu aja, aku juga lumayan kesulitan dulu untuk mencari temen makan malam (ya, kalau siang kan bisa sama-sama temen kampus dulu).

Karena sulit itulah aku jadi terbiasa jika harus makan seorang diri ditempat umum seperti rumah makan gitu. Ada seorang temen kantorku yang bilang kalau dia sama sekali gak bisa makan sendiri di tempat umum. Mending gak usah makan aja sekalian deh! ujarnya. Dia merasa kalau makan sendirian itu akan diperhatikan orang lain dan akan dipandang aneh. Lah, kalau aku mah biasa aja, malahan gampang kan yak kalau mau makan tinggal pesen satu menu dan satu minuman, tunggu bentar, makan, selesai pulang. Gak pake ribet!

Kebiasaan yang bisa aku lakukan sendiri selain makan di tempat umum adalah ke salon dan berbelanja ke swalayan. Bagi aku, ribet kalau udah kesalon rame-rame. Yang namanya salon itukan harus ngantri yak. Kalau kita pergi bertiga aja, yang pertama kali masuk nantinya akan menjadi juru tunggu untuk yang terakhir kali masuk. Bagusan kan jadinya sendiri, gak pake tunggu-tungguan :D

Tapi, diantara kemandirian aku untuk pergi sendirian. Aku paling gak bisa jalan ke mall dan nonton bioskop sendiri. Ya, berasa jadi kesepian banget gitu kalau kedua hal itu aku lakuin sendiri. Mending mah aku nonton k-drama aja seharian di rumah sendirian daripada harus nonton bioskop sendiri. Masih ada hari esok kan yak. Saat temen-temen lainnya udah bisa diajak untuk jalan bareng dan nonton bareng :)

Sooo,, apakah aku udah mandiri? Dinilai saja deh dari orang-orang sekitar aku. Iya gak? :mrgreen:

Tulisan ini diikutkan pada perhelatan GIVEAWAY :  PRIBADI MANDIRI yang diselenggarakan oleh Imelda Coutrier dan Nicamperenique.

nb: setelah membaca postingan ini terlihat sekali tulisannya gak kuat banget yak >.<

, , , ,

57 Comments

Negara Dunia Ketiga

Haaaiii,, Halooo,, Apa kabar semuaaa??

Beberapa hari yang lalu, eh beberapa minggu deh (atau bulan?? ) Aaahh, pokoknya udah lama banget dah :P aku menonton film yang menceritakan tentang perjuangan seorang warga negara Amerika yang membantu pembuatan rumah penampungan di Afrika. Katanya film ini terinspirasi dari kisah nyata. Udah ada yang pada tahu judul film ini? Yaaaakkk,, bener semua judul filmnya:  Machine Gun Preacher *tepuk tangan* :mrgreen:

21 cineplex

 Film ini bercerita tentang seorang penjahat yang bernama Sam Childers (Gerard Butler) yang ‘bertobat’ kemudian menjadi seorang hampa yang patuh. Diapun kemudian bekerja sebagai tukang disebuah perusahaan kontraktor hingga akhirnya usahanya berhasil dan dia mendirikan perusahaannya sendiri.

Suatu ketika, dia diajak untuk membangun rumah-rumah di Sudan Afrika. Maka perginya Sam untuk melakukan pekerjaannya sambil lebih mendekatkan diri pada agama dengan menolong orang-orang disekitarnya.

Sampai di Sudan, yang dilihat Sam ternyata amatlah mengerikan. Perang saudara dimana-mana dan tidak adanya tempat bernaung anak-anak agar dapat hidup dengan tenang. Maka, saat waktunya sudah habis, Sam-pun pulang ke rumahnya dengan segala rencana yang telah disusunnya di Afrika. Untuk membangun rumah penampungan.

***

Aku gak akan cerita panjang lebar atas film ini. Tapi melihat ceritanya, kalau gak inget ini berasal dari kisah nyata (yang dibuktikan dengan gambar-gambar yang diambil Sam dan keluarganya saat mengunjungi sudan) aku gak akan percaya bahwa ada orang seperti Sam yang rela meninggalkan tempatnya yang nyaman di negaranya untuk menolong orang yang sama sekali tidak dikenalnya.

Dan berfikirlah aku, bahwa jika suatu negara dikunjungi oleh orang dari negara lain, kemudian orang lain itu terenyuh dan membantu negara tersebut bukankah itu termasuk kedalam negara dunia ketiga? Negara yang tidak bisa menuntaskan masalahnya sendiri sehingga ‘perlu’ bantuan orang dari negara lain. Seperti Sudan ini? Aaah,, kasian sekali Sudan itu yak :P

Tapiiiii,,, kemudian aku menonton tayangan Kick Andy yang berjudul: KU TAMBATKAN HATI DI INDONESIA. Dalam episode ini, Andy F Noya mengundang 4 narasumber yang merupakan warga asing dan menetap di Indonesia, karena kata terenyuh itu keluar. Kemudian akupun berfikir, apakah Indonesia mirip dengan Sudan yang dibantu oleh WNA karena tidak mampu lagi menolong masyarakatnya sendiri?

kickandy.com

Contohnya adalah Andre Graff, seorang WN Perancis yang jatuh cinta pada Indonesia di Wora-Woru, Waikabubak, NTT. Dia jatuh cinta kepada daerah ini karena daerah ini gak mempunyai sumber air bersih! Jadi, diapun dengan usaha kerasnya membangun sumur-sumur air bersih dari hasil uang pribadinya sendiri yang awalnya dikatakan pekerjaan bodoh oleh warga sekitar. Tapi hasilnya? Sekarang beta sudah punya air bersih toh :D *pengaruh iklan*

Bangga, sekaliguh miris juga. Bangga karena ternyata banyak warga negara asing yang mencintai negeri ini lebih dari negeri tempat lahirnya sendiri. Namun miris melihat kenyataan kenapa mereka bisa sampe ke sasar disini kalau bukan kenyataan bahwa negara ini masih bermasalah? Atau lebih lagi kalau negara ini masih masuk kategori negara dunia ketiga?

Ya, negara ini masih membangun. Negara ini masih banyak perlu belajar. Mudah-mudahan, negara ini akan terus maju hingga akhirnya gak ada lagi WNA yang mencintai Indonesia karena kemirisannya tapi mencintai Indonesia karena keindahannya kan yak :)

, , , , , ,

60 Comments

Undangan via FB..

Haaaiiii… Haloooo.. Apa kabar semuanyaaa??

Beberapa hari yang lalu. Tepatnya selasa kemaren. Siang-siang aku di SMS temen SMA yang mengajak aku untuk pergi kesebuah undangan yang dimana si mempelai adalah teman satu SMA juga. Namanya seh sering aku denger, tapi ngebayangin yang mana wajahnya aku suka rada-rada lupa gitu (sssooo,, kalau ada sahabat blogger yang bertemu aku dijalan dan aku gak negor, sungguh.. bukan bermaksud sombong, tapi isi otak ini emang gak banyak, jadi yang jarang berinteraksi sering terhapuskan >.< ).

Aku yang merasa gak diundang gak mau dong pergi undangannya. Laaahh,, siapa aku dengan sok pedenya pergi ke resepsi orang tanpa diundang. Jadilah aku menolak tawaran untuk pergi bareng sahabat aku itu. Tapi dia kekeuh buat aku ikutan. Katanya aku diundang kok. Aku yang gak merasa mendapatkan undangannya jadi bingung dong. Lah, mana undangannya? Itu niee,, ada di FB. WHAAATTT???!!!

Undangan via FB

Perkembangan teknologi emang mempercepat komunikasi juga merubah cara berkomunikasi kita. Yang dulunya hanya bisa berkomunikasi jika bertemu atau jika dirumah (dengan menggunakan telepon rumah) sekarang setiap saat bisa terus berkomunikasi kapanpun dan di mana pun. Tapi apakah dengan adanya media sosial juga merubah cara mengundang seseorang?

Jujur, bilanglah aku kolot atau segala macamnya. Tapi sampai sekarang aku gak pernah mau pergi undangan kalau hanya mengundang via FB dengan media seperti gambar di atas atau mengetag di undangan pernikahan yang diuploadnya. Lah, iya kalau yang invite atau yang ngetag itu orang yang bersangkutan. Kalau bukan?

Aku lebih bisa mentolerir kalau undangan yang aku dapat itu via message yang secara personal meminta aku dateng. Kalau lewat SMS juga gak papa kok. Aku akan lebih diundang secara pribadi dan aku akan sangat mengusahakan untuk datang. Ya karena di dalam agama aku juga telah jelas kan yak bahwa jika kita diundang maka jika gak berhalangan kita wajib datang kan.

Ssoo,, undanganlah aku dengan surat undanganmu. Kalau mau hemat undanganlah aku dengan SMSmu. Lebih lagi undanglah aku via message FBmu. Tapi jangan undang aku dengan tag dan invitemu. :mrgreen:

Kalau teman-teman bagaimana? Mau gak dateng undangan jika cuma diundang via tag dan invite di FB?

Update: Polingnya udah aku tutup. Dan hasilnya adalah banyak yang memilih pilihan ke3. Mikir-mikir dulu. Thanks yak yang udah mau ikutan polingnya :D Tapi kalau dilihat dari komentar seh banyakan yang gak mau kalau hanya diundang via FB yak :P

, , , , , ,

79 Comments